LAPORAN
KASUS
TINGKAT KECEMASAN
ANAK DALAM PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA
Disusun Oleh :
Aulianisa
P1337425217033
SEMESTER 7
PROGRAM STUDI DIV
KEPERAWATAN GIGI
JURUSAN KEPERAWATAN
GIGI
POLITEKNIK KESEHATAN
SEMARANG
2020
I. Pendahuluan
Kesehatan
gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan manusia seutuhnya,
dengan demikian upaya-upaya dalam bidang kesehatan gigi pada akhirnya akan
turut berperan dalam peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya
manusia. Kesehatan gigi di Indonesia masih menjadi masalah yang sangat
memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan banyak orang yang berpendapat bahwa
tidak perlu melakukan perawatan gigi, mereka tidak tahu bahwa banyak akibat
yang akan terjadi bila gigi tidak dirawat dengan baik.(Kemenkes., 2012).
Ada
berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi, yaitu
salah satunya dengan melakukan perawatan rutin ke dokter gigi, namun perawatan
gigi ini seringkali menimbulkan kecemasan pada anak dimana kecemasan ini
dialami oleh anak selama perawatan gigi. Hal ini dapat menyebabkan anak
bersikap tidak kooperatif sehingga dapat menghambat proses perawatan gigi.
(Harmoko, 2010).
Anak
usia sekolah dasar rata-rata berumur 6-12 tahun. Rentang umur ini merupakan
periode gigi campuran (mixed dentition) yang dikenal sebagai periode kritis
pertumbuhan dan perkembangan oleh karena itu pemantauan secara rutin sangat
penting dilakukan agar tidak terjadi gangguan pada periode ini. Pencabutan gigi
merupakan salah satu perawatan agar anomali gigi akibat persistensi tidak
terjadi. Persistensi terjadi akibat hasil perkembangan yang salah terutama
selama pergantian gigi sulung dengan permanen yang dapat menyebabkan terjadinya
anomali pada masa gigi permanen.(Ahmadi H.A, 2005).
Kecemasan
merupakan keadaan normal yang dialami secara tetap sebagai bagian perkembangan
normal manusia yang sudah mulai tampak sejak masa anak–anak. Kecemasan anak
pada perawatan gigi dapat menimbulkan sikap yang tidak kooperatif sehingga akan
menghambat proses perawatan gigi yang dapat menurunkan efisiensi dan
efektifitas pelayanan kesehatan gigi. Dalam hal ini dokter gigi diharapkan
dapat mengantisipasi perilaku pasien anak untuk membantu menghindari rasa
cemas. (Alaki S, Alotaibi A, Almabadi E & E, 2012).
Kecemasan
gigi yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi
dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Kecemasan pada anak-anak
telah diakui sebagai masalah selama bertahun-tahun yang menyebabkan anak sering
menunda dan menolak untuk melakukan perawatan (Buchannan H, 2002). Penelitian
dari Fransiskus (2008) di Australia menyatakan bahwa antara 50% hingga 80% dari
seluruh kasus penyakit yang terjadi berkaitan secara langsung dengan kecemasan.
(Prasetyo EP, 2005).
Menurut
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi nasional masalah gigi dan
mulut sebesar 57,6%. Terdapat 10,2% yang menerima perawatan dari tenaga medis
gigi, sementara 89,8% lainnya tidak dilakukan perawatan. Prevalensi untuk
provinsi Aceh terdapat 55,3% memiliki masalah gigi dan mulut, 13,9% yang menerima
perawatan gigi tenaga medis gigi dan 86,1% lainnya tidak dilakukan perawatan
dari tenaga medis gigi. (Riskesdas, 2018).
Penelitian
yang sama dilakukan oleh Alaki dkk di India, memperlihatkan bahwa dari 518
anak-anak yang diteliti tingkat kecemasannya terhadap pencabutan gigi sebanyak
43,5% anak laki- laki dan 64,6% anak perempuan menyatakan kecemasan terhadap
prosedur pencabutan gigi karena anak merasa bahwa alat-alat kedokteran gigi
yang berada di dalam tempat praktek sangat menakutkan dan mengakibatkan rasa
nyeri. (Nicolas E, Bessadet M, Collado V, Carrasco P, 2010).
Kunjungan
kedokter gigi sejak dini di harapkan untuk membiasakan anak- anak melakukan
pemeriksaan gigi secara rutin dan mengatasi rasa cemas dan ketakutan anak
terhadap perawatan gigi dan mulut. (Maulani, 2005).
Setiap
anak yang datang berobat ke dokter gigi memiliki kondisi kesehatan gigi yang
berbeda-beda dan akan memperlihatkan perilaku yang berbeda pula terhadap
perawatan gigi dan mulut yang akan diberikan. misalnya mendorong instrumen atau
peralatan perawatan gigi agar menjauh darinya, menolak membuka mulut, menangis,
sampai meronta-ronta, dan membantah. Ada anak yang berperilaku kooperatif
terhadap perawatan gigi dan tidak sedikit yang berperilaku tidak kooperatif.
Perilaku yang tidak kooperatif merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas
anak terhadap perawatan gigi dan mulut. Penyebabnya dapat berasal dari anak itu
sendiri,orang tua, dokter gigi, atau lingkungan klinik.(Alaki S, Alotaibi A,
Almabadi E & E, 2012).
Berdasarkan
survei awal di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie, ditemukan dari 10 anak yang
melakukan pencabutan gigi, 7 anak diantaranya menunjukkan respon kecemasan saat
dilakukan pencabutan gigi dengan 2 kasus pencabutan gigi yang tidak berhasil
dikarenakan kecemasan anak tersebut.
II. Identifikasi Kasus
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung
ke Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie yang berjumlah 30 anak selama penelitian,
sedangkan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling yaitu
pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung di puskesmas Mutiara Kabupaten
Pidie selama penelitian yang berjumlah 30 anak.
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar check list. Analisis data
pada penelitian ini menggunakan analisis univariat yaitu untuk mengetahui
distribusi frekuensi tingkat kecemasan anak dalam pencabutan gigi.
A. Karakteristik Responden
1. Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase
Laki-laki
12
40
Perempuan
18
60
Dari tabel distribusi
frekuensi diatas dapat diketahui untuk karakteristik responden berdasarkan
jenis kelamin perempuan memiliki persentase lebih tinggi (60%) dengan frekuensi
18 responden dibandingkan persentasi jenis kelamin laki-laki (40%).
2. Berdasarkan Umur Pasien
Umur (tahun)
Frekunesi
Persentase
6-7
15
50
8-9
6
20
10-11
9
30
Dari tabel distribusi
frekuensi diatas dapat diketahui responden paling banyak berumur 6-7 tahun
(50%) dengan jumlah 15 responden.
III. Hasil penatalaksanaan
Tabel tingkat
kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi
Tingkat Kecemasan Anak Dalam Tindakan Pencabutan
Gigi
Frekuensi
Persentase
Tidak Cemas
3
10
Cemas Ringan
6
20
Cemas Sedang
9
30
Cemas Berat
12
40
Berdasarkan
tabel diatas menunjukkan kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di
Puskesmas Mutiara persentase paling tinggi masuk dalam kategori cemas berat
(40%) yang berjumlah 12 responden.
Tingkat kecemasan anak usia 6-12 tahun yang melakukan
pencabutan gigi di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie menunjukkan mayoritas
dalam kategori cemas berat yang berjumlah 12 responden (40%). Hal ini
dikarenakan anak cemas dengan alat-alat perawatan gigi yang ada diruangan poli
gigi, ketidaktahuan anak dengan setiap penggunaan alat dan anak cenderung tidak
mau diperiksa dengan menggunakan alat-alat perawatan gigi yang membuat anak
cemas sehingga anak akan menghindar dan berusaha melawan ketika dokter gigi
atau perawat gigi mulai melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat perawatan
gigi.
Peran orang tua dalam memotivasi si anak juga masih
kurang dan terkadang orang tua juga sering mengancam anak dengan alat-alat
kesehatan gigi. Tanpa disadari hal-hal yang dilakukan oleh orang tua seperti
menjadikan dokter gigi sebagai ancaman, menjadikan praktik dokter gigi untuk
menakut-nakuti anak yang membuat anak akan berfikir negative terhadap perawatan
gigi dan cerita-cerita menakutkan dari teman tentang pencabutan gigi sehingga
dapat menimbulkan rasa cemas pada anak saat melakukan perawatan gigi terutama
pencabutan gigi.
IV. Pembahasan
Berdasarkan
tabel tingkat kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di Puskesmas
Mutiara menunjukkan tingkat kecemasan masuk dalam kategori cemas berat dengan persentase
paling tinggi (40%) yang berjumlah 12 responden.
Salah
satu alasan mengapa anak takut atau cemas ke dokter gigi adalah karena takut
akan adanya rasa sakit selama perawatan gigi seperti penyuntikan, pencabutan
gigi dan dibor giginya. Rasa takut dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk,
tanda fisiologis mungkin timbul ditandai dengan meningkatknya denyut nadi,
pucat, berkeringat dingin, gelisah dan bahkan menangis.(Budiyanti, E,A dan
Heriandi, 2001).
Dalam
perawatan kesehatan gigi dan mulut anak-anak yang melakukan pencabutan gigi
cenderung menampakkan emotional yang negatif menandakan tingginya tingkat
kecemasan anak. Hal ini disebabkan karena anak-anak memiliki ketakutan terhadap
alat pencabutan gigi yang akan dimasukkan kedalam mulutnya yang mereka anggap
dapat membahayakan diri mereka, dan ketakutan atau kecemasan terhadap rasa
sakit yang mungkin akan mereka rasakan saat pencabutan gigi berlangsung. (Rita
Amalia Simon, 2014).
Melakukan
perawatan gigi kepada pasien anak hendaknya membatasi penggunaan instrumen,
karena jika terlalu banyak menggunakkan instrumen gigi dapat memicu rasa cemas
dan takut pada anak-anak. Alat-alat yang dapat ditakuti oleh anak-anak seperti,
jarum, tang, bein, dsb.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alaki (2012) yang
menunjukkan bahwa ketika anak-anak ditanya tentang prosedur perawatan gigi yang
paling mengkhawatirkan adalah pencabutan gigi, diikuti dengan perawatan saluran
akar, takut akan cedera gigi dan takut terhadap suntikan. Kecemasan pada anak
merupakan suatu keadaan yang multifaktorial. Kecemasan terhadap perawatan gigi
sering dinyatakan dengan penolakan perawatan gigi atau ketakutan terhadap
dokter gigi.(Mardelita, 2018) Namun, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa
mereka yang membentuk dan mewujudkan tingkah laku anak yang tidak kooperatif
dalam menerima perawatan gigi. (Hertanto M, 2010).
Tindakan
orang tua yang mengancam anak dengan menggunakan kunjungan kedokter gigi
sebagai hukuman. Kunjungan ke dokter gigi sering digunakan untuk menakutkan
anak-anak agar berperilaku baik. Sikap orang tua dapat mempengaruhi tingkat
kecemasan pada anak-anak terkait membicarakan perawatan gigi dan mulut.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nurfadilla, 2018)
yang menunjukkan bahwa anak mengalami rasa cemas karena mendengar informasi
yang buruk dari orang tua, teman maupun orang-orang terdekatnya sehingga anak
tersebut takut untuk melakukan pencabutan gigi. sehingga mereka takut untuk
dilakukan pencabutan gigi karena ada teman mengatakan bahwa mencabut gigi
rasanya sakit, dan orang tua yang menceritakan hal-hal yang buruk tentang
pencabutan gigi.(Nurfadilla, 2018).
V.
Kesimpulan
Tingkat kecemasan
anak-anak dapat ditimbulkan dari :
1. Tindakan orang tua yang mengancam anak dengan
menggunakkan kunjungan ke klinik gigi sebagai ancaman.
2. Mendengar informasi yang buruk dari orang-orang terdekat,
seperti orang tua, teman, dsb.
3. Operator tidak membatasi penggunaan instrument saat
melakukan perawatan gigi dan mulut pada anak-anak seperti tindakan pencabutan
gigi.
DAFTAR PUSTAKA
Reca. Putri, C. F.
Salfiyadi, T. Nuraskin, C. A. Mardiah, A. 2020. TINGKAT KECEMASAN ANAK DALAM
PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA. Jurnal Online Keperawatan Indonesia. Vol.3
No.1. 114.7.97.221. diakses pada 10-09-2020.
Lestari, Z. D. Wibowo, T. B.
Pradopo, S. Prevalensi Persistensi Gigi Sulung Dan Maloklusi Pada Anak Usia 6-12
Tahun. Jurnal Kedokteran Gigi UNAIR. Unair.ac.id. diakses pada 10-09-2020.
LAPORAN
KASUS
TINGKAT KECEMASAN
ANAK DALAM PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA
Disusun Oleh :
Aulianisa
P1337425217033
SEMESTER 7
PROGRAM STUDI DIV
KEPERAWATAN GIGI
JURUSAN KEPERAWATAN
GIGI
POLITEKNIK KESEHATAN
SEMARANG
2020
I. Pendahuluan
Kesehatan
gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan manusia seutuhnya,
dengan demikian upaya-upaya dalam bidang kesehatan gigi pada akhirnya akan
turut berperan dalam peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya
manusia. Kesehatan gigi di Indonesia masih menjadi masalah yang sangat
memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan banyak orang yang berpendapat bahwa
tidak perlu melakukan perawatan gigi, mereka tidak tahu bahwa banyak akibat
yang akan terjadi bila gigi tidak dirawat dengan baik.(Kemenkes., 2012).
Ada
berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi, yaitu
salah satunya dengan melakukan perawatan rutin ke dokter gigi, namun perawatan
gigi ini seringkali menimbulkan kecemasan pada anak dimana kecemasan ini
dialami oleh anak selama perawatan gigi. Hal ini dapat menyebabkan anak
bersikap tidak kooperatif sehingga dapat menghambat proses perawatan gigi.
(Harmoko, 2010).
Anak
usia sekolah dasar rata-rata berumur 6-12 tahun. Rentang umur ini merupakan
periode gigi campuran (mixed dentition) yang dikenal sebagai periode kritis
pertumbuhan dan perkembangan oleh karena itu pemantauan secara rutin sangat
penting dilakukan agar tidak terjadi gangguan pada periode ini. Pencabutan gigi
merupakan salah satu perawatan agar anomali gigi akibat persistensi tidak
terjadi. Persistensi terjadi akibat hasil perkembangan yang salah terutama
selama pergantian gigi sulung dengan permanen yang dapat menyebabkan terjadinya
anomali pada masa gigi permanen.(Ahmadi H.A, 2005).
Kecemasan
merupakan keadaan normal yang dialami secara tetap sebagai bagian perkembangan
normal manusia yang sudah mulai tampak sejak masa anak–anak. Kecemasan anak
pada perawatan gigi dapat menimbulkan sikap yang tidak kooperatif sehingga akan
menghambat proses perawatan gigi yang dapat menurunkan efisiensi dan
efektifitas pelayanan kesehatan gigi. Dalam hal ini dokter gigi diharapkan
dapat mengantisipasi perilaku pasien anak untuk membantu menghindari rasa
cemas. (Alaki S, Alotaibi A, Almabadi E & E, 2012).
Kecemasan
gigi yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi
dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Kecemasan pada anak-anak
telah diakui sebagai masalah selama bertahun-tahun yang menyebabkan anak sering
menunda dan menolak untuk melakukan perawatan (Buchannan H, 2002). Penelitian
dari Fransiskus (2008) di Australia menyatakan bahwa antara 50% hingga 80% dari
seluruh kasus penyakit yang terjadi berkaitan secara langsung dengan kecemasan.
(Prasetyo EP, 2005).
Menurut
Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi nasional masalah gigi dan
mulut sebesar 57,6%. Terdapat 10,2% yang menerima perawatan dari tenaga medis
gigi, sementara 89,8% lainnya tidak dilakukan perawatan. Prevalensi untuk
provinsi Aceh terdapat 55,3% memiliki masalah gigi dan mulut, 13,9% yang menerima
perawatan gigi tenaga medis gigi dan 86,1% lainnya tidak dilakukan perawatan
dari tenaga medis gigi. (Riskesdas, 2018).
Penelitian
yang sama dilakukan oleh Alaki dkk di India, memperlihatkan bahwa dari 518
anak-anak yang diteliti tingkat kecemasannya terhadap pencabutan gigi sebanyak
43,5% anak laki- laki dan 64,6% anak perempuan menyatakan kecemasan terhadap
prosedur pencabutan gigi karena anak merasa bahwa alat-alat kedokteran gigi
yang berada di dalam tempat praktek sangat menakutkan dan mengakibatkan rasa
nyeri. (Nicolas E, Bessadet M, Collado V, Carrasco P, 2010).
Kunjungan
kedokter gigi sejak dini di harapkan untuk membiasakan anak- anak melakukan
pemeriksaan gigi secara rutin dan mengatasi rasa cemas dan ketakutan anak
terhadap perawatan gigi dan mulut. (Maulani, 2005).
Setiap
anak yang datang berobat ke dokter gigi memiliki kondisi kesehatan gigi yang
berbeda-beda dan akan memperlihatkan perilaku yang berbeda pula terhadap
perawatan gigi dan mulut yang akan diberikan. misalnya mendorong instrumen atau
peralatan perawatan gigi agar menjauh darinya, menolak membuka mulut, menangis,
sampai meronta-ronta, dan membantah. Ada anak yang berperilaku kooperatif
terhadap perawatan gigi dan tidak sedikit yang berperilaku tidak kooperatif.
Perilaku yang tidak kooperatif merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas
anak terhadap perawatan gigi dan mulut. Penyebabnya dapat berasal dari anak itu
sendiri,orang tua, dokter gigi, atau lingkungan klinik.(Alaki S, Alotaibi A,
Almabadi E & E, 2012).
Berdasarkan
survei awal di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie, ditemukan dari 10 anak yang
melakukan pencabutan gigi, 7 anak diantaranya menunjukkan respon kecemasan saat
dilakukan pencabutan gigi dengan 2 kasus pencabutan gigi yang tidak berhasil
dikarenakan kecemasan anak tersebut.
II. Identifikasi Kasus
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung
ke Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie yang berjumlah 30 anak selama penelitian,
sedangkan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling yaitu
pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung di puskesmas Mutiara Kabupaten
Pidie selama penelitian yang berjumlah 30 anak.
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar check list. Analisis data
pada penelitian ini menggunakan analisis univariat yaitu untuk mengetahui
distribusi frekuensi tingkat kecemasan anak dalam pencabutan gigi.
A. Karakteristik Responden
1. Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis Kelamin |
Frekuensi |
Persentase |
|
Laki-laki |
12 |
40 |
|
Perempuan |
18 |
60 |
Dari tabel distribusi
frekuensi diatas dapat diketahui untuk karakteristik responden berdasarkan
jenis kelamin perempuan memiliki persentase lebih tinggi (60%) dengan frekuensi
18 responden dibandingkan persentasi jenis kelamin laki-laki (40%).
2. Berdasarkan Umur Pasien
|
Umur (tahun) |
Frekunesi |
Persentase |
|
6-7 |
15 |
50 |
|
8-9 |
6 |
20 |
|
10-11 |
9 |
30 |
Dari tabel distribusi
frekuensi diatas dapat diketahui responden paling banyak berumur 6-7 tahun
(50%) dengan jumlah 15 responden.
III. Hasil penatalaksanaan
Tabel tingkat
kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi
|
Tingkat Kecemasan Anak Dalam Tindakan Pencabutan
Gigi |
Frekuensi |
Persentase |
|
Tidak Cemas |
3 |
10 |
|
Cemas Ringan |
6 |
20 |
|
Cemas Sedang |
9 |
30 |
|
Cemas Berat |
12 |
40 |
Berdasarkan
tabel diatas menunjukkan kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di
Puskesmas Mutiara persentase paling tinggi masuk dalam kategori cemas berat
(40%) yang berjumlah 12 responden.
Tingkat kecemasan anak usia 6-12 tahun yang melakukan
pencabutan gigi di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie menunjukkan mayoritas
dalam kategori cemas berat yang berjumlah 12 responden (40%). Hal ini
dikarenakan anak cemas dengan alat-alat perawatan gigi yang ada diruangan poli
gigi, ketidaktahuan anak dengan setiap penggunaan alat dan anak cenderung tidak
mau diperiksa dengan menggunakan alat-alat perawatan gigi yang membuat anak
cemas sehingga anak akan menghindar dan berusaha melawan ketika dokter gigi
atau perawat gigi mulai melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat perawatan
gigi.
Peran orang tua dalam memotivasi si anak juga masih
kurang dan terkadang orang tua juga sering mengancam anak dengan alat-alat
kesehatan gigi. Tanpa disadari hal-hal yang dilakukan oleh orang tua seperti
menjadikan dokter gigi sebagai ancaman, menjadikan praktik dokter gigi untuk
menakut-nakuti anak yang membuat anak akan berfikir negative terhadap perawatan
gigi dan cerita-cerita menakutkan dari teman tentang pencabutan gigi sehingga
dapat menimbulkan rasa cemas pada anak saat melakukan perawatan gigi terutama
pencabutan gigi.
IV. Pembahasan
Berdasarkan
tabel tingkat kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di Puskesmas
Mutiara menunjukkan tingkat kecemasan masuk dalam kategori cemas berat dengan persentase
paling tinggi (40%) yang berjumlah 12 responden.
Salah
satu alasan mengapa anak takut atau cemas ke dokter gigi adalah karena takut
akan adanya rasa sakit selama perawatan gigi seperti penyuntikan, pencabutan
gigi dan dibor giginya. Rasa takut dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk,
tanda fisiologis mungkin timbul ditandai dengan meningkatknya denyut nadi,
pucat, berkeringat dingin, gelisah dan bahkan menangis.(Budiyanti, E,A dan
Heriandi, 2001).
Dalam
perawatan kesehatan gigi dan mulut anak-anak yang melakukan pencabutan gigi
cenderung menampakkan emotional yang negatif menandakan tingginya tingkat
kecemasan anak. Hal ini disebabkan karena anak-anak memiliki ketakutan terhadap
alat pencabutan gigi yang akan dimasukkan kedalam mulutnya yang mereka anggap
dapat membahayakan diri mereka, dan ketakutan atau kecemasan terhadap rasa
sakit yang mungkin akan mereka rasakan saat pencabutan gigi berlangsung. (Rita
Amalia Simon, 2014).
Melakukan
perawatan gigi kepada pasien anak hendaknya membatasi penggunaan instrumen,
karena jika terlalu banyak menggunakkan instrumen gigi dapat memicu rasa cemas
dan takut pada anak-anak. Alat-alat yang dapat ditakuti oleh anak-anak seperti,
jarum, tang, bein, dsb.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alaki (2012) yang
menunjukkan bahwa ketika anak-anak ditanya tentang prosedur perawatan gigi yang
paling mengkhawatirkan adalah pencabutan gigi, diikuti dengan perawatan saluran
akar, takut akan cedera gigi dan takut terhadap suntikan. Kecemasan pada anak
merupakan suatu keadaan yang multifaktorial. Kecemasan terhadap perawatan gigi
sering dinyatakan dengan penolakan perawatan gigi atau ketakutan terhadap
dokter gigi.(Mardelita, 2018) Namun, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa
mereka yang membentuk dan mewujudkan tingkah laku anak yang tidak kooperatif
dalam menerima perawatan gigi. (Hertanto M, 2010).
Tindakan
orang tua yang mengancam anak dengan menggunakan kunjungan kedokter gigi
sebagai hukuman. Kunjungan ke dokter gigi sering digunakan untuk menakutkan
anak-anak agar berperilaku baik. Sikap orang tua dapat mempengaruhi tingkat
kecemasan pada anak-anak terkait membicarakan perawatan gigi dan mulut.
Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nurfadilla, 2018)
yang menunjukkan bahwa anak mengalami rasa cemas karena mendengar informasi
yang buruk dari orang tua, teman maupun orang-orang terdekatnya sehingga anak
tersebut takut untuk melakukan pencabutan gigi. sehingga mereka takut untuk
dilakukan pencabutan gigi karena ada teman mengatakan bahwa mencabut gigi
rasanya sakit, dan orang tua yang menceritakan hal-hal yang buruk tentang
pencabutan gigi.(Nurfadilla, 2018).
V.
Kesimpulan
Tingkat kecemasan
anak-anak dapat ditimbulkan dari :
1. Tindakan orang tua yang mengancam anak dengan
menggunakkan kunjungan ke klinik gigi sebagai ancaman.
2. Mendengar informasi yang buruk dari orang-orang terdekat,
seperti orang tua, teman, dsb.
3. Operator tidak membatasi penggunaan instrument saat
melakukan perawatan gigi dan mulut pada anak-anak seperti tindakan pencabutan
gigi.
DAFTAR PUSTAKA
Reca. Putri, C. F.
Salfiyadi, T. Nuraskin, C. A. Mardiah, A. 2020. TINGKAT KECEMASAN ANAK DALAM
PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA. Jurnal Online Keperawatan Indonesia. Vol.3
No.1. 114.7.97.221. diakses pada 10-09-2020.
Lestari, Z. D. Wibowo, T. B.
Pradopo, S. Prevalensi Persistensi Gigi Sulung Dan Maloklusi Pada Anak Usia 6-12
Tahun. Jurnal Kedokteran Gigi UNAIR. Unair.ac.id. diakses pada 10-09-2020.

Posting Komentar