LAPORAN KASUS : PENCABUTAN GIGI RESORBSI FISIOLOGIS

LAPORAN KASUS

TINGKAT KECEMASAN ANAK DALAM PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA

 

Disusun Oleh :

Aulianisa

P1337425217033

SEMESTER 7

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN GIGI

JURUSAN KEPERAWATAN GIGI

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG

2020


    I.       Pendahuluan

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan manusia seutuhnya, dengan demikian upaya-upaya dalam bidang kesehatan gigi pada akhirnya akan turut berperan dalam peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia. Kesehatan gigi di Indonesia masih menjadi masalah yang sangat memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan banyak orang yang berpendapat bahwa tidak perlu melakukan perawatan gigi, mereka tidak tahu bahwa banyak akibat yang akan terjadi bila gigi tidak dirawat dengan baik.(Kemenkes., 2012).

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan kesehatan gigi, yaitu salah satunya dengan melakukan perawatan rutin ke dokter gigi, namun perawatan gigi ini seringkali menimbulkan kecemasan pada anak dimana kecemasan ini dialami oleh anak selama perawatan gigi. Hal ini dapat menyebabkan anak bersikap tidak kooperatif sehingga dapat menghambat proses perawatan gigi. (Harmoko, 2010).

Anak usia sekolah dasar rata-rata berumur 6-12 tahun. Rentang umur ini merupakan periode gigi campuran (mixed dentition) yang dikenal sebagai periode kritis pertumbuhan dan perkembangan oleh karena itu pemantauan secara rutin sangat penting dilakukan agar tidak terjadi gangguan pada periode ini. Pencabutan gigi merupakan salah satu perawatan agar anomali gigi akibat persistensi tidak terjadi. Persistensi terjadi akibat hasil perkembangan yang salah terutama selama pergantian gigi sulung dengan permanen yang dapat menyebabkan terjadinya anomali pada masa gigi permanen.(Ahmadi H.A, 2005).

Kecemasan merupakan keadaan normal yang dialami secara tetap sebagai bagian perkembangan normal manusia yang sudah mulai tampak sejak masa anak–anak. Kecemasan anak pada perawatan gigi dapat menimbulkan sikap yang tidak kooperatif sehingga akan menghambat proses perawatan gigi yang dapat menurunkan efisiensi dan efektifitas pelayanan kesehatan gigi. Dalam hal ini dokter gigi diharapkan dapat mengantisipasi perilaku pasien anak untuk membantu menghindari rasa cemas. (Alaki S, Alotaibi A, Almabadi E & E, 2012).

Kecemasan gigi yang timbul mulai dari masa anak-anak merupakan hambatan terbesar bagi dokter gigi dalam melakukan perawatan yang optimal. Kecemasan pada anak-anak telah diakui sebagai masalah selama bertahun-tahun yang menyebabkan anak sering menunda dan menolak untuk melakukan perawatan (Buchannan H, 2002). Penelitian dari Fransiskus (2008) di Australia menyatakan bahwa antara 50% hingga 80% dari seluruh kasus penyakit yang terjadi berkaitan secara langsung dengan kecemasan. (Prasetyo EP, 2005).

Menurut Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut sebesar 57,6%. Terdapat 10,2% yang menerima perawatan dari tenaga medis gigi, sementara 89,8% lainnya tidak dilakukan perawatan. Prevalensi untuk provinsi Aceh terdapat 55,3% memiliki masalah gigi dan mulut, 13,9% yang menerima perawatan gigi tenaga medis gigi dan 86,1% lainnya tidak dilakukan perawatan dari tenaga medis gigi. (Riskesdas, 2018).

Penelitian yang sama dilakukan oleh Alaki dkk di India, memperlihatkan bahwa dari 518 anak-anak yang diteliti tingkat kecemasannya terhadap pencabutan gigi sebanyak 43,5% anak laki- laki dan 64,6% anak perempuan menyatakan kecemasan terhadap prosedur pencabutan gigi karena anak merasa bahwa alat-alat kedokteran gigi yang berada di dalam tempat praktek sangat menakutkan dan mengakibatkan rasa nyeri. (Nicolas E, Bessadet M, Collado V, Carrasco P, 2010).

Kunjungan kedokter gigi sejak dini di harapkan untuk membiasakan anak- anak melakukan pemeriksaan gigi secara rutin dan mengatasi rasa cemas dan ketakutan anak terhadap perawatan gigi dan mulut. (Maulani, 2005).

Setiap anak yang datang berobat ke dokter gigi memiliki kondisi kesehatan gigi yang berbeda-beda dan akan memperlihatkan perilaku yang berbeda pula terhadap perawatan gigi dan mulut yang akan diberikan. misalnya mendorong instrumen atau peralatan perawatan gigi agar menjauh darinya, menolak membuka mulut, menangis, sampai meronta-ronta, dan membantah. Ada anak yang berperilaku kooperatif terhadap perawatan gigi dan tidak sedikit yang berperilaku tidak kooperatif. Perilaku yang tidak kooperatif merupakan manifestasi dari rasa takut dan cemas anak terhadap perawatan gigi dan mulut. Penyebabnya dapat berasal dari anak itu sendiri,orang tua, dokter gigi, atau lingkungan klinik.(Alaki S, Alotaibi A, Almabadi E & E, 2012).

Berdasarkan survei awal di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie, ditemukan dari 10 anak yang melakukan pencabutan gigi, 7 anak diantaranya menunjukkan respon kecemasan saat dilakukan pencabutan gigi dengan 2 kasus pencabutan gigi yang tidak berhasil dikarenakan kecemasan anak tersebut.

   II.       Identifikasi Kasus

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung ke Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie yang berjumlah 30 anak selama penelitian, sedangkan sampel dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling yaitu pasien anak usia 6-12 tahun yang berkunjung di puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie selama penelitian yang berjumlah 30 anak.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar check list. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat yaitu untuk mengetahui distribusi frekuensi tingkat kecemasan anak dalam pencabutan gigi.

A.  Karakteristik Responden

1.  Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Frekuensi

Persentase

Laki-laki

12

40

Perempuan

18

60

Dari tabel distribusi frekuensi diatas dapat diketahui untuk karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin perempuan memiliki persentase lebih tinggi (60%) dengan frekuensi 18 responden dibandingkan persentasi jenis kelamin laki-laki (40%).

2.  Berdasarkan Umur Pasien

Umur (tahun)

Frekunesi

Persentase

6-7

15

50

8-9

6

20

10-11

9

30

Dari tabel distribusi frekuensi diatas dapat diketahui responden paling banyak berumur 6-7 tahun (50%) dengan jumlah 15 responden.

 III.       Hasil penatalaksanaan

Tabel tingkat kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi

Tingkat Kecemasan Anak Dalam Tindakan Pencabutan Gigi

Frekuensi

Persentase

Tidak Cemas

3

10

Cemas Ringan

6

20

Cemas Sedang

9

30

Cemas Berat

12

40

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di Puskesmas Mutiara persentase paling tinggi masuk dalam kategori cemas berat (40%) yang berjumlah 12 responden.

 

Tingkat kecemasan anak usia 6-12 tahun yang melakukan pencabutan gigi di Puskesmas Mutiara Kabupaten Pidie menunjukkan mayoritas dalam kategori cemas berat yang berjumlah 12 responden (40%). Hal ini dikarenakan anak cemas dengan alat-alat perawatan gigi yang ada diruangan poli gigi, ketidaktahuan anak dengan setiap penggunaan alat dan anak cenderung tidak mau diperiksa dengan menggunakan alat-alat perawatan gigi yang membuat anak cemas sehingga anak akan menghindar dan berusaha melawan ketika dokter gigi atau perawat gigi mulai melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat perawatan gigi.

Peran orang tua dalam memotivasi si anak juga masih kurang dan terkadang orang tua juga sering mengancam anak dengan alat-alat kesehatan gigi. Tanpa disadari hal-hal yang dilakukan oleh orang tua seperti menjadikan dokter gigi sebagai ancaman, menjadikan praktik dokter gigi untuk menakut-nakuti anak yang membuat anak akan berfikir negative terhadap perawatan gigi dan cerita-cerita menakutkan dari teman tentang pencabutan gigi sehingga dapat menimbulkan rasa cemas pada anak saat melakukan perawatan gigi terutama pencabutan gigi.

IV.       Pembahasan

Berdasarkan tabel tingkat kecemasan anak dalam tindakan pencabutan gigi di Puskesmas Mutiara menunjukkan tingkat kecemasan masuk dalam kategori cemas berat dengan persentase paling tinggi (40%) yang berjumlah 12 responden.

Salah satu alasan mengapa anak takut atau cemas ke dokter gigi adalah karena takut akan adanya rasa sakit selama perawatan gigi seperti penyuntikan, pencabutan gigi dan dibor giginya. Rasa takut dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk, tanda fisiologis mungkin timbul ditandai dengan meningkatknya denyut nadi, pucat, berkeringat dingin, gelisah dan bahkan menangis.(Budiyanti, E,A dan Heriandi, 2001).

Dalam perawatan kesehatan gigi dan mulut anak-anak yang melakukan pencabutan gigi cenderung menampakkan emotional yang negatif menandakan tingginya tingkat kecemasan anak. Hal ini disebabkan karena anak-anak memiliki ketakutan terhadap alat pencabutan gigi yang akan dimasukkan kedalam mulutnya yang mereka anggap dapat membahayakan diri mereka, dan ketakutan atau kecemasan terhadap rasa sakit yang mungkin akan mereka rasakan saat pencabutan gigi berlangsung. (Rita Amalia Simon, 2014).

Melakukan perawatan gigi kepada pasien anak hendaknya membatasi penggunaan instrumen, karena jika terlalu banyak menggunakkan instrumen gigi dapat memicu rasa cemas dan takut pada anak-anak. Alat-alat yang dapat ditakuti oleh anak-anak seperti, jarum, tang, bein, dsb.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alaki (2012) yang menunjukkan bahwa ketika anak-anak ditanya tentang prosedur perawatan gigi yang paling mengkhawatirkan adalah pencabutan gigi, diikuti dengan perawatan saluran akar, takut akan cedera gigi dan takut terhadap suntikan. Kecemasan pada anak merupakan suatu keadaan yang multifaktorial. Kecemasan terhadap perawatan gigi sering dinyatakan dengan penolakan perawatan gigi atau ketakutan terhadap dokter gigi.(Mardelita, 2018) Namun, orang tua terkadang tidak menyadari bahwa mereka yang membentuk dan mewujudkan tingkah laku anak yang tidak kooperatif dalam menerima perawatan gigi. (Hertanto M, 2010).

Tindakan orang tua yang mengancam anak dengan menggunakan kunjungan kedokter gigi sebagai hukuman. Kunjungan ke dokter gigi sering digunakan untuk menakutkan anak-anak agar berperilaku baik. Sikap orang tua dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada anak-anak terkait membicarakan perawatan gigi dan mulut.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Nurfadilla, 2018) yang menunjukkan bahwa anak mengalami rasa cemas karena mendengar informasi yang buruk dari orang tua, teman maupun orang-orang terdekatnya sehingga anak tersebut takut untuk melakukan pencabutan gigi. sehingga mereka takut untuk dilakukan pencabutan gigi karena ada teman mengatakan bahwa mencabut gigi rasanya sakit, dan orang tua yang menceritakan hal-hal yang buruk tentang pencabutan gigi.(Nurfadilla, 2018).

  V.       Kesimpulan

Tingkat kecemasan anak-anak dapat ditimbulkan dari :

1.  Tindakan orang tua yang mengancam anak dengan menggunakkan kunjungan ke klinik gigi sebagai ancaman.

2.  Mendengar informasi yang buruk dari orang-orang terdekat, seperti orang tua, teman, dsb.

3.  Operator tidak membatasi penggunaan instrument saat melakukan perawatan gigi dan mulut pada anak-anak seperti tindakan pencabutan gigi.


DAFTAR PUSTAKA

Reca. Putri, C. F. Salfiyadi, T. Nuraskin, C. A. Mardiah, A. 2020. TINGKAT KECEMASAN ANAK DALAM PENCABUTAN GIGI DI PUSKESMAS MUTIARA. Jurnal Online Keperawatan Indonesia. Vol.3 No.1. 114.7.97.221. diakses pada 10-09-2020.

Lestari, Z. D. Wibowo, T. B. Pradopo, S. Prevalensi Persistensi Gigi Sulung Dan Maloklusi Pada Anak Usia 6-12 Tahun. Jurnal Kedokteran Gigi UNAIR. Unair.ac.id. diakses pada 10-09-2020.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama